KRITIK LOGIKA ARISTOTELES
By Siti Atqiya
Kehidupan Aristoteles
Kehidupan manusia tak terlepas dari ilmu
pengetahuan. Fenomena apapun yang terjadi dalam kehidupan, akan selalu dapat
dipresentasikan dalam bentuk ilmu pengetahuan yang logis. Peradaban yang semakin
maju dan teknologi yang semakin canggih, tentunya hal ini akan selalu ada
kaitannya dengan peran filsafat yang membersamai para ilmuwan dalam memajukan
peradaban di muka bumi ini. Filsafat ialah salah satu cabang keilmuan yang
mengkaji tentang suatu kebenaran. Salah satu filsuf, Aristoteles juga
menyebutkan bahwa unsur-unsur kebenaran dalam filsafat mencakup estetika,
metafisika, retorika, ekonomi, politik, dan logika (Istikhomah & BS, 2021). Aristoteles merupakan salah satu tokoh
filsuf yang terkenal sebagai guru dari Alexander Agung.
Membahas tentang Aristoteles, ia adalah salah
satu filsuf klasik terkemuka pada era Yunani kuno. Lahir di desa Trasia, kota Stageria,
Yunani pada tahun 384 SM, Aristoteles merupakan putra dari Nichomachus, salah
satu fisikawan sekaligus dokter dari raja Amyntas II, kerajaan Makedonia. Sedari
kecil, ia selalu mendapatkan banyak pengajaran dari ayahnya. Banyak ilmu-ilmu
pengetahuan alam yang diwariskan sang ayah kepada Aristoteles, khususnya
biologi dan kedokteran dalam hal teknik membedah. Hingga pada usianya 17 tahun,
ayahnya meninggal sehingga ia harus pergi ke Athena untuk melanjutkan studinya
di akademi dialektika milik Plato (Hatta, 1949).
Aristoteles menjadi salah satu murid terbaik
yang Plato miliki. Selain mempelajari filsafat, ia juga memperluas ilmu
pengetahuannya di luar jurusan yang akademi ajarkan. Ilmu matematika yang ia
dapatkan di akademi, dia pelajari lagi jauh lebih dalam pada guru-guru
astronomi terkenal seperti Kalippos dan Eudoxos di luar akademi. Tak hanya itu,
Aristoteles juga mempelajari banyak ilmu lainnya seperti metafisika, fisika,
teater, retorika, puisi, musik, etika, politik, hukum, zoologi, dan masih
banyak lagi cabang ilmu pengetahuan yang ia pelajari (Hatta, 1949).
Dengan lingkungan sosialnya yang sangat
akademis, Aristoteles mewarisi banyak sekali ilmu pengetahuan dari ayahnya,
Plato, dan guru-guru lainnya. Plato meninggal saat usianya menginjak 38 tahun.
Setelah 20 tahun mengemban banyak ilmu pengetahuan di Athena, ia pergi bersama
teman akademinya, Xenokrates mengelilingi dunia untuk memperluas wawasan
berdasarkan keilmuan yang mereka punya. Mereka juga mengunjungi kota kecil Athena
yang dikuasai oleh Hermeias, murid Plato terdahulu sebelum Aristoteles.
Di Athena, Plato bertemu dan menikah dengan
Pythias, keponakan Hermeias. Selang 3 tahun Plato tinggal di Athena, kota
tersebut diserang dan berhasil dikuasai oleh pasukan Persia. Hermeias tewas
terbunuh sehingga Plato dan istrinya terpaksa harus meninggalkan kota tersebut
dan harus kembali ke Makedonia karena mendapatkan amanah dari raja Philip untuk
mengajari anaknya, Alexander (Iskandar Zulkarnain) yang saat itu berusia tiga
belas tahun (Copleston, 2020). Tujuh tahun setelah mengajar, ia kembali ke
kota kelahirannya Stageria dan menetap di sana selama beberapa tahun.
Ketika usianya 50 tahun, Aristoteles kembali
ke Athena yang kala itu berhasil dikuasai kembali oleh raja Alexander, anak didiknya
dari kerajaan Makedonia. Aristoteles membangun sebuah sekolah yang bernama Lyceum
yang letaknya tidak jauh dari candi Lyceios di pinggir kota Athena. Aristoteles
menerapkan sistem pembelajaran seperti kuliah. Berbeda dengan sistem
pembelajaran yang diterapkan akademi Plato dengan sistem dialog. Namun,
Aristoteles juga menyerap dan meneruskan sistem pembelajaran yang dilakukan
oleh Plato yaitu outdoor atau jalan-jalan (Copleston, 2020).
Pada tahun 323 SM, setelah dua belas tahun
Aristoteles tinggal dan mengajar di Athena, raja Alexander Agung tewas dalam
sebuah peperangan. Kemudian, terjadilah permusuhan antara bangsa Yunani
terhadap masyarakat Makedonia (termasuk Aristoteles) karena dianggap menghina
para dewa kepercayaan rakyat sehingga muncullah gerakan anti-Makedonia (Hatta, 1949). Lalu Aristoteles meninggalkan Athena dan
pergi ke Khalkis di pulau Euboia, kota kelahiran ibunya. Di sana Aristoteles
tinggal dengan damai untuk menghabiskan masa tuanya hingga pada tahun 322 SM, Aristoteles
meninggal di usia 63 tahun karena penyakit perut yang dideritanya.
Logika Aristoteles
Aristoteles memberikan banyak pengaruh di
berbagai bidang, khususnya terhadap logika. Hal ini tak terlepas dari pengaruh
Plato, sang guru yang mengajarnya semasa di akademi dulu ketika Aristoteles
masih muda. Namun, tak sedikit pula pengaruh Plato yang bertolak belakang
dengan logika Aristoteles. Plato beranggapan bahwa ide muncul terlebih dahulu
untuk menghasilkan panca indera. Sedangkan, Aristoteles beranggapan bahwa panca
indera yang terlebih dahulu muncul untuk menghasilkan suatu ide. Selain itu,
karya pemikiran Aristoteles di bidang logika juga menimbulkan banyak perdebatan
hingga saat ini dan hal itu tidak dapat dibicarakan jika hanya berdasarkan
historis semata.
Salah satu karya pemikiran Aristoteles di bidang
logika dengan inti pengajarannya yaitu silogisme. Silogisme merupakan suatu
argumen yang terdiri dari tiga bagian, yaitu premis mayor, premis minor, dan
kesimpulan (Khurotun Lutfi Khafifah,
Lutfiana Dwi Safitri, 2022). Logika
Aristoteles juga sering disebut dengan logika “formal”. Hal ini karena logika
Aristoteles berupa analisis bentuk-bentuk pemikiran. Namun, hal ini juga dapat
menjadi kekeliruan yang cukup besar jika logika Aristoteles dianggap menyangkut
pemikiran-pemikiran manusia yang eksklusif hingga tidak ada kaitannya dengan
realitas eksternal.
Silogisme berhubungan dengan kepastian. Misal,
dalam silogisme “semua manusia fana, Socrates adalah manusia, maka Socrates
fana”. Dalam silogisme
terebut, terdapat beberapa kesimpulan yang bisa ditarik dari satu premis. Seperti
premis “sebagian manusia fana” maka, dapat disimpulkan bahwa hal itu
dapat ditarik dari premis “semua manusia fana”. Dapat disimpulkan juga
bahwa “Tak ada yang fana ialah dewa”, tapi premis “sebagian manusia bukan
orang Yunani” tidak dapat disimpulkan bahwa “sebagian orang Yunani bukan
manusia”(Dinora
& Al-Ahmed, 2020).
Aristoteles berpendapat bahwa kesimpulan
tersebut bersifat deduktif jika dikemukakan dengan cermat, maka sifatnya logistik.
Tak hanya itu, Aristoteles juga terdorong untuk menarik kesimpulannya secara
induktif (Mustofa, 2016). Seperti dalam silogisme “semua manusia
fana” yang berdasarkan pada persepsi panca indera. Aristoteles harus
membenarkan keterlibatan antara persepsi indera dan memori. Aristoteles
menyatakan bahwa persepsi-indera semacam itu tidak akan mencapai titik
universal. Namun, setelah itu ia menunjukkan bahwa manusia dapat melihat dan
menganalisi kelompok singular secara berulang pada suatu fenomena.
Dalam analisis, Aristoteles tak hanya membahas
bukti secara demokratif, saintifik, atau deduktif, tapi juga secara induktif. Meskipun
ia mengakui bahwa silogisme melalui induksi lebih jelas bagi manusia, namun
secara idealnya tetaplah deduktif yang bersifat silogistik demonstratif. Aristoteles membawa analisis proses
deduktif ke level yang lebih tinggi dan lebih kompleks. Tapi, hal itu tidak dapat dikatakan telah
melakukan sesuatu yang sama untuk induktif. Di sisi lain, Aristoteles mengamati
bahwa premis utama silogisme tidak dapat disimpulkan secara langsung dari
prinsip pertama, melainkan tergantung pada induksi. Hal ini menyimpulkan bahwa
induksi menunjukkan yang universal sebagai sesuatu yang tersirat dalam
partikular yang diketahui secara jelas.
Kritik Logika Aristoteles
Dalam sistem logika formal, Aristoteles awalnya
memaparkan semua jenis silogisme yang valid. Ia menyusun seluruh argumen yang
telah dikonversi dalam bentuk silogistik, maka muncul suatu kemungkinan cara
untuk menghindari berbagai kekeliruan atau kesalahan. Namun, jika hal ini
dilihat sebagai sebuah akhir, maka Bertrand Russel menemukan tiga jenis kritik
yaitu adanya kecacatan secara formal dalam sistem tersebut; penilaian yang
dianggap berlebihan terhadap silogisme; dan penilaian yang dianggap berlebihan
juga terhadap deduksi sebagai bentuk argumen (Russell, 1946).
Menurut Russel, kecacatan secara formal yang
dimaksud adalah dalam premis “Socrates adalah manusia” dan “semua
orang Yunani adalah manusia”. Terdapat perbedaan tajam dari dua premis
tersebut, yang tidak dilakukan oleh Aristotelian. Pada premis “semua orang
Yunani adalah manusia” yang biasa ditafsirkan sebagai pengandaian adanya
orang-orang Yunani. Namun, premis dari sebagian silogisme Aristoteles yang satu
ini dianggap tidak valid jika pengandaian ini tidak ada. Misalnya “semua
orang Yunani adalah manusia, semua orang Yunani berkulit putih, maka sebagian
manusia berkulit putih”. Premis tersebut valid jika terdapat orang-orang
Yunani. Namun, akan tidak valid jika sebaliknya.
Premis yang menyatakan bahwa “semua orang
Yunani adalah manusia” akan lebih kompleks daripada premis “Socrates
adalah manusia”. Subjek dalam premis tersebut adalah “Socrates”. Tapi dalam
premis “semua orang Yunani adalah manusia”, “semua orang Yunani”
bukanlah subjek dalam premis tersebut. Hal ini karena tidak ada sesuatu yang
dibahas mengenai “semua orang Yunani” dalam premis “ada orang-orang Yunani”
maupun dalam premis “jika ada sesuatu berupa orang Yunani, maka ia adalah seorang
manusia”.
Kecacatan secara formal murni ini bersumber
dari kesalahan dalam teori pengetahuan dan metafisika. Kesalahan metafisika
terjadi karena menganggap bahwa “semua manusia fana” dalam makna yang sama
dengan premis yang mana “Socrates” adalah subjek dari “Socrates fana”. Anggapan
ini juga dapat memungkinkan metafisika yakin bahwa pada suatu pengertian
tertentu, “semua manusia” mengacu pada suatu entitas yang serupa jenisnya
dengan sesuatu yang diacu oleh “Socrates”. Amggapan ini juga menggiring
Aristoteles untuk menyatakan bahwa dari perspektif tertentu, suatu entitas
adalah substansi
Penilaian berlebihan terhadap silogisme
yang menjadi salah satu jenis argumen deduktif. Dalam cabang ilmu matematika, seluruh
silogismenya bersifat deduktif, namun silogisme hampir tidak pernah digunakan.
Tentu saja, bagi Aristoteles sangat mudah untuk menulis kembali argumen-argumen
yang matematis dalam bentuk silogistik. Namun hal itu dinilia sia-sia dan tidak
meyakinkan. Misal, “Kuda
adalah hewan, maka kepala kuda adalah kepala hewan”. Silogismenya valid. Namun,
nyatanya, itu hanyalahh sebagian dari deduksi yang valid.
Upaya lain Aristoteles dalam menonjolkan
silogisme deduktif dinilai cukup menyesatkan para filsuf dalam memandang suatu hakikat
sebagai penalaran yang sistematis. Immanuel Kant juga berpendapat bahwa
matematika sifatnya tidak logistik, karena menyimpulkan jika matematika
menggunakan asas-asas ekstra-logis yang berapapun demikian angkanya, hal itu
tentu akan dianggap sama dengan prinsip logika. Sama seperti para pendahulunya,
meskpun melalui jalan yang berbeda, Kant juga tersesatkan oleh sikap hormat dan
sopannya terhadap Aristoteles.
Penilaian yang berlebihan terhadap deduksi.
Bangsa Yunani mengartikan deduksi sebagai sumber pengetahuan, melebihi dari
para filsuf modern. Pada konteks ini, Aristoteles melakukan sesuatu yang keliru lebih kecil
dari Plato. Aristoteles berulang kali mengakui akan pentingnya induksi. Ia juga
banyak memberikan perhatian pada persoalan: bagaimana kita dapat mengetahui
premis pertama yang darinya deduksi bermula? Meskipun demikian, sama halnya
seperti orang Yunani yang lain, ia menonjolkan secara berlebihan terhadap
deduksi dalam teorinya mengenai pengetahuan.
Induksi mengandung daya meyakinkan yang tidak
lebih besar dari deduksi. Induksi hanya menghasilkan kemungkinan, bukan
kepastian. Di sisi lain, induksi justru malah memberikan pengetahuan baru yang
tidak dihasilkan oleh deduksi. Segala kesimpulan penting di luar bidang
matematika dan logika bersifat induktif, bukan deduktif., keculai pada bidang
teologi dan hukum. Hal itu karena dua bidang tersebut mengambil asas pertama
dari suatu teks atau naskah yang tidak diragukan, yaitu kitab suci atau
undang-undang (Russell, 1946).
Karya pemikiran Aristoteles akan begitu banyak
dikenang sepanjang masa. Terlepas dari banyaknya pro-kontra yang muncul dari
karya-karyanya, hal itu cukup membuktikan kalau ilmu pengetahuan akan selalu
berkembang dan bertambah dari masa ke masa. Banyaknya perdebatan dan
kejanggalan yang muncul dari karya-karya Aristoteles mengartikan betapa
kritisnya para filsuf yang di zaman setelah Aristoteles akan dunia pendidikan.
Namun, terlepas dari pro-kontranya, Aristoteles tetap menjadi salah satu filsuf
terbesar di era klasik Yunani kuno yang karyanya memiliki kontribuusi besar
dalam dunia pendidikan, hingga era modern saat ini.
Komentar
Posting Komentar