ANTARA JAWABAN ESAI DAN PERASAAN YANG TAK PERNAH SELESAI



Dear, Ashim!

Besok kamu ujian. Dan aku membayangkan lembar soal itu sedang gemetar lebih dulu sebelum kamu menyentuhnya. Tapi tenang, yang diuji itu kamu, bukan perasaanku padamu (kalau perasaanku yang diuji, mungkin dukturnya ikut bingung menilai seberapa parah kadarnya). 

Ujian sering terlihat seperti monster berkepala banyak. Padahal sebenarnya ia cuma kertas yang diberi wewenang untuk membuat orang panik. Lucu, ya? Manusia yang diberi akal justru sering kalah tenang dari beberapa baris pertanyaan.

Tapi kamu bukan termasuk “manusia” itu. Kamu adalah versi dirimu yang sudah melewati begadang, mencatat poin penting, menghela napas panjang sambil berkata, “Bisa, insyaAllah.” Dan bagiku, itu sudah separuh kemenangan.

Kalau kata Socrates, kesadaran bahwa kita belum tahu adalah awal kebijaksanaan. Jadi kalau ada soal yang membuatmu berpikir keras, itu bukan tanda kamu gagal, itu tanda kamu sedang bertumbuh. 

Ashim, dengarkan ini dengan baik. Nilai itu penting, tapi itu bukan definisi dirimu. Kamu lebih luas dari angka. Kamu lebih dalam dari skor. Kamu adalah proses panjang yang tidak bisa diringkas dalam satu kolom hasil.

Dan #izin menyampaikan, setiap kali aku melihatmu berusaha itu lebih memukau daripada hasilnya sendiri. Ada sesuatu yang sangat gagah dari seseorang yang memilih bertanggung jawab atas masa depannya. Itu… keren banget. Berbahaya malah, bisa bikin aku makin kagum.

Kalau pikiranmu mendadak kosong, jangan panik. Otakmu hanya sedang merapikan file sebelum menampilkannya kembali dengan elegan. Percayalah, ia bekerja di belakang layar seperti tim produksi yang tak terlihat tapi krusial.

Pergilah besok ke kampus dengan langkah tenang. Duduklah dengan punggung tegak. Tatap soal itu seperti kamu sedang berkata, “Aku sudah berlatih. Sekarang giliranku bersinar.”

Dan setelah semuanya selesai, aku ingin mendengar ceritamu. Entah itu tentang soal yang mudah, soal yang menyebalkan, atau soal yang membuatmu ingin menghela napas panjang. Aku akan mendengarkan dengan excited, sambil diam-diam bersyukur karena orang yang aku kagumi adalah orang yang tidak lari dari tanggung jawab.

Semangat, Ashim. Taklukkan harimu.

Dan #izin menjadi pendukung setiamu yang mungkin terlalu sering tersenyum setiap kali namamu disebut.

Jakarta-Dubai, 15 Februari 2026

-Qiqi 🐢🐳

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE WEIGHT OF BEING

ALL ABOUT KKN : Problematika dan Tantangan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi Mahasiswa

BOLEHKAH AKU MENJADI BINTANG BARUMU?