DARI KETIDAKTAHUAN MENUJU KETENTRAMAN



Dear, Ashim!

Bagaimana tidurmu semalam? Apakah bintang barumu meninabobokanmu dengan damai? Apakah lelahmu luruh bersama gelap yang memeluk malam? Semoga istirahatmu cukup, mimpimu baik, dan pagimu dipenuhi cahaya yang ramah. ☀️

Aku ingin menulis ini apa adanya. Walau mungkin nanti terdengar lebay, dramatis, atau terlalu bucin untuk ukuran manusia yang katanya “rasional.” Tapi biarlah. Filsafat boleh saja mengajarkanku tentang logos, tapi semalam aku belajar bahwa hati juga punya epistemologinya sendiri. Dan kamu, entah bagaimana, menjadi guruku dalam keduanya. ✨

Terima kasih banyak, makasii byk bgt bgt bgt karena sudah menyimakku hafalanku semalam. Mendengarkan pertanyaanku yang sangat mendasar, bahkan terasa “kok bisa sih aku nggak tahu ini?” Tapi kamu tidak pernah membuatku merasa kecil. Kamu menjawab tanpa menghakimi, tanpa nada merendahkan, tanpa intonasi yang membuatku ingin menghilang.

Padahal jujur, aku malu. Minder. Merasa kecil sekali di hadapan luasnya ilmu agama yang ternyata begitu dalam, sementara aku baru bermain di tepinya saja. Di pondok dulu, ada banyak pertanyaan yang kupendam begitu rapat karena takut dicap aneh, liberal, kebanyakan mikir, atau kurang iman. Tapi semalam, pertanyaan-pertanyaan itu keluar seperti anak kecil yang akhirnya menemukan rumah yang aman untuk bercerita. Dan kamu menjawabnya dengan sabar. 🥹

Aku senang. Senang banget. Sampai hatiku terasa penuh. Bahkan organ-organ tubuhku ikut merespon, tersentuh hatiku, tersentil ginjalku, tertoel empeduku. Entah apa lagi yang harus kusebut agar kamu tahu betapa bahagianya aku. 😭✨

Tolong... jangan bosan mengajariku. Jangan lelah membimbingku. Aku sungguh khawatir jika harus memahami semuanya sendirian. Bukan karena aku tidak mau belajar, tapi karena aku tahu betul keterbatasanku. Aku takut salah arah. Takut memahami sepotong lalu mengira sudah utuh. Takut tersesat dalam tafsirku sendiri tanpa ada yang meluruskan dengan lembut.

Ajari aku pelan-pelan saja. Dengan ritme yang ramah. Karena kadang kupingku budeg, otakku lemot, dan fokusku suka kabur entah ke mana. 😔 Tapi percayalah, aku sungguh ingin belajar. Sungguh ingin tumbuh.

Dan maafkan satu hal ini, kalau nadanya tiba-tiba tinggi atau aku merasa dibentak sedikit saja, badanku suka bereaksi lebih dulu daripada logikaku. Gemetar sebentar, kepala mendadak berdenging seperti ada konser nyamuk dadakan di dalamnya. Walau aku mungkin tetap tertawa biar terlihat santai, tubuhku kadang menyimpan alarmnya sendiri. Jadi kalau bisa… jangan galak-galak ya, pack. ☺️ Aku lebih mudah paham kalau dibimbing, bukan ditekan.

Selain ilmu agama, ajari aku hal lainnya juga. Dunia ini luas sekali, dan rasanya aku baru menginjak halaman depannya saja. Ilmu yang kupunya baru filsafat, itupun masih kulit, belum sampai ke daging, apalagi ke tulangnya. Tapi sejak mengenalmu, aku merasa seperti diberi kesempatan kedua untuk mengupgrade otakku, memperluas cakrawalaku, dan menata ulang cara pandangku terhadap banyak hal. ✨

Setiap hari, setiap malam, ada rasa excited yang menyenangkan. Seperti anak kecil yang menunggu jam pelajaran favoritnya. Rasanya seperti sedang dibimbing perlahan agar tidak tersesat dalam memahami sesuatu yang sebelumnya gelap bagiku. Dan itu membuatku terharu. The real terharu.

Rating untuk semalam? ♾️/10. Tidak ada angka yang cukup merepresentasikan rasa syukurku.

Semoga kamu selalu diberi kekuatan. Dipermudah segala urusanmu. Dilapangkan hatimu. Diberi kesehatan yang baik, pikiran yang jernih, dan langkah yang teguh. Karena sungguh, kehadiranmu membawa dampak. Setidaknya untuk satu murid yang cerewet, banyak tanya, kadang lemot, tapi tulus ingin belajar ini. ✨

Sehat selalu yaa, king 👑. Semoga harimu selembut kura-kura yang sabar 🐢. Selapang lautan tempat paus bernyanyi 🐳. Dan sebening embun pagi yang menenangkan 🫧

Dari muridmu yang masih setengah matang, tapi ingin terus belajar… bersamamu. 💛

Jakarta-Dubai, 17 Februari 2026

-Qiqi 🐢🐳

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE WEIGHT OF BEING

ALL ABOUT KKN : Problematika dan Tantangan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi Mahasiswa

BOLEHKAH AKU MENJADI BINTANG BARUMU?