DEAR MY GREEN FOREST 🌳


Dear, Ashim!

Belakangan ini orang-orang sibuk membicarakan green flag. Seolah cinta bisa diringkas menjadi daftar centang yang komunikatif, tidak posesif, dewasa, dan stabil. Seolah hati seperti lembar evaluasi. Setiap kali aku memikirkanmu, semua istilah itu terasa terlalu ringkas. Kamu tidak muat dalam kategori. Kamu segalanya.

Kamu bukan green flag. Kamu green forest.

Green flag itu petunjuk bahwa jalan ini aman dilalui. Bukan sekadar jalan yang aman, kamu juga tempat yang membuatku ingin menetap dan bertahan hingga napas penghabisan dan kehidupan kemudian. Di dalam dirimu, ada keteduhan yang selama ini kubutuhkan. Ada kedalaman yang tidak menuntut untuk dipahami sekaligus. Kamu tidak memamerkan keindahanmu di permukaan saja, kamu menyejukkan dan menguatkan dari akar tersembunyi yang bekerja perlahan, menghidupkan apa yang tidak terlihat.

Aku tersadar, bersamamu membuatku tidak merasa sedang diuji untuk layak dicintai. Kamu memberiku ruang seperti hutan, memberi ruang bagi angin untuk lewat tanpa kehilangan arah. Kamu juga tidak membatasi tumbuhku. Kamu justru membuatku berani bertumbuh.

Di dunia yang serba cepat dan dangkal, kamu hadir dengan kedalaman dan perhatian yang serius. Tidak gegabah dan penuh pertimbangan. Kamu membuatku merasa aman dalam cara yang tak terduga. Perkataanmu memang manis, tapi ada yang lebih penting, kamu konsisten. Aku menyukai setiap hal dari dirimu, yang kamu ruangkan untukku.

Kamu adalah green forest. Menyejukkan, menyehatkan, menenangkan, dan nyaman. Seseorang masuk dengan antusias untuk menghilangkan penat, lalu keluar dengan napas yang lebih panjang. Begitu juga kamu bagiku. Ketika pikiranku riuh dan hatiku penuh tanya, kamu tidak memadamkan semuanya sekaligus. Kamu berdiri di sana dengan tenang, menjadi teduh, dan itu membuatku merasa tidak sendirian.

Aku tidak hanya mendapatkan green flag, tapi green forest. Dan green forestku itu kamu. 

Semoga aku juga dapat menjadi green forest untukmu.

Jakarta-Sharjah, 23 Februari 2026

-Qiqi 🐢🐳

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE WEIGHT OF BEING

ALL ABOUT KKN : Problematika dan Tantangan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi Mahasiswa

BOLEHKAH AKU MENJADI BINTANG BARUMU?