DI BALIK BUNGKUS KERTAS COKELAT

Dear, Ashim!

Terima kasih untuk kebab malam ini. 

Aku menuliskan ini dengan perasaan yang masih hangat, meski hari telah melelahkan. Bukan karena rasanya semata, tetapi karena ada makna yang diam-diam menetap setelahnya. Dalam sesuatu yang tampak sederhana, ada perhatian yang memilih untuk singgah, bukan sekadar lewat.

Kebab itu datang di saat yang tepat. Saat tubuh lelah dan kondisi tak sepenuhnya baik-baik saja. Ia menjadi jeda, menjadi pengingat sunyi bahwa aku sempat dipikirkan, bahwa kebutuhanku tidak luput dari ingatan. Ia tidak berlebihan, tidak pula kosong. Ia cukup, dan justru karena itulah ia terasa dalam.

Dari satu genggam hangat itu, aku belajar bahwa perhatian yang tulus sering kali tidak bersuara. Ia tidak datang dengan janji atau kata-kata besar, melainkan melalui tindakan kecil yang dilakukan dengan kesadaran. Tindakan yang sederhana, namun mampu menjaga hati agar tidak merasa sendirian di tengah masa yang panjang.

Terima kasih, karena lewat hal sesederhana itu, aku mengerti bahwa kasih tidak selalu ingin dipahami, apalagi dipamerkan. Ia hanya ingin hadir, pelan, dan tulus di waktu yang tepat, lalu tinggal lebih lama di dalam rasa.

Jakarta-Dubai, 3 Februari 2026

- Qiqi 🐢🐳

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE WEIGHT OF BEING

ALL ABOUT KKN : Problematika dan Tantangan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi Mahasiswa

BOLEHKAH AKU MENJADI BINTANG BARUMU?