INDAH BERPINDAH ARAH
Dear, Ashim!
Kamu tahu, sejak dulu aku punya kebiasaan diam-diam memandangi bulan di kala malam. Buatku bulan seperti rahasia langit yang indah, hadir dengan cara yang sederhana dan memikat. Aku menyukai bulan karena setia pada siklusnya, tetap datang meski tak selalu dalam bentuk purnama yang sempurna.
Namun, semua berubah seketika kamu masuk ke hidupku, ada sesuatu yang bergeser tanpa permisi. Standar tentang indah berubah arah. Aku tak lagi mencari terang di atas kepala, aku menemukan keindahan baru melalui layar ponsel kecilku yang nantinya akan menetap dan berjalan di sampingku. Ya, itu kamu! Aku tak perlu lagi menunggu malam untuk melihat cahaya indah, kehangatanmu membuat siang terasa lebih hidup dan malam terasa lebih aman hingga ku terlelap dalam dunia mimpi dan bertemu kamu lagi di sana.
Aku hanya bisa menikmati keindahan bulan dari jauh dengan durasi yang terbatas, hingga fajar hadir menggantikan posisi cahayanya. Tapi kamu, aku tak lagi merasa terbatasi dengan jarak itu. Aku merasa dekat dengan kehadiranmu dan kita akan menghapus jarak tersebut nantinya. Tak hanya kukagumi, keindahanmu juga dapat kurasakan yang akhirnya membawaku tenggelam dalam dunia ketenangan yang dilengkapi dengan hasrat untuk bersama.
Bulan mengajarkanku tentang rindu yang lirih, sementara kamu membawaku pada rasa yang mendalam dan bertumbuh. Bersamamu, keindahan tidak lagi terbatas oleh waktu. Perasaan ini berkembang dengan stabil, seperti keyakinan yang tak goyah hanya karena langit sedang mendung.
Keindahanmu melampaui bulan yang kunikmati, meebihi segala purnama yang pernah kupandang. Rasaku padamu bukan sekadar kekaguman pada sesuatu yang jauh. Perasaan ini adalah pilihan yang sadar diiringi dengan kepercayaan dan keyakinanku untuk menyebut namamu sebagai rumah, dan segalanya.
Kehilangan cahaya langit malam sudah tidak lagi menjadi ketakutanku saat ini. Dengan hadirnya kamu, aku tahu ke mana harus pulang dan bersandar.
Jakarta - Sharjah, 28 Februari 2026
-Qiqi 🐢🐳✨

Komentar
Posting Komentar