LOGIKAKU MENYERAH PADA NAMAMU
Dear, Ashim!
Aku menulis ini dengan perasaan yang sedikit malu, seperti hujan pertama yang ragu menyentuh tanah. Katanya cinta itu harus rasional, tapi sejak mengenalmu, logika hanya menjadi tamu yang duduk di sudut, sementara rindu mengambil alih ruang tamu hatiku tanpa izin.
Aku tidak tahu sejak kapan kamu berubah menjadi semacam musim. Hadirmu seperti kemarau yang dinanti, sekaligus hujan yang ditunggu. Aneh, ya? Kamu bisa menjadi dua hal yang bertolak belakang tapi tetap membuatku merasa utuh. Barangkali begitulah cinta bekerja, tidak pernah meminta persetujuan akal, ia hanya mengetuk perlahan lalu menetap.
Kadang aku berpikir, jika hidup adalah perjalanan mencari makna seperti yang dikatakan oleh Viktor Frankl, maka mungkin salah satu maknaku adalah kamu, atau setidaknya percakapan kecil kita yang membuat dunia terasa tidak terlalu bising.
Dan jika cinta adalah seni, seperti yang ditulis oleh Erich Fromm, maka izinkan aku menjadi murid yang tekun, belajar menyayangimu bukan dengan posesif, tetapi dengan keberanian untuk tetap tinggal bahkan ketika hari sedang tidak ramah.
Tapi tenang saja, aku tidak ingin membuat tulisan ini terlalu berat. Aku hanya ingin mengaku bahwa setiap kali namamu muncul di layar ponselku, ada senyum bodoh yang tak bisa kusangkal. Bahkan kopi yang biasanya pahit pun terasa seperti sedang berusaha menjadi manis demi menyaingi perasaanku padamu.
Kalau suatu hari kamu merasa dunia terlalu kejam, izinkan aku menjadi jeda. Bukan pahlawan, hanya tempat bersandar yang tidak banyak bertanya. Aku mungkin tidak bisa menjanjikan langit tanpa awan, tapi aku bisa berjanji akan duduk bersamamu di bawah hujan tanpa mengeluh tentang basah.
Lucunya, semakin aku mencoba terlihat biasa saja di hadapanmu, semakin semesta mempermalukanku dengan degup jantung yang berisik. Mungkin beginilah bucin yang bermartabat. Ingin terlihat filosofis, tapi tetap salah tingkah hingga jiwaku pun sering kali ingin terbang setiap mendengar suara lembut di acara inti dan menatap absen harianmu.
Dan jika suatu hari nanti kita menua, aku ingin bisa berkata bahwa aku pernah mencintaimu dengan cara yang jenaka tapi istimewa dengan tawa yang ringan dan doa yang diam-diam.
Dengan penuh rasa yang kadang berlebihan, tapi aku suka.
Jakarta-Dubai, 15 Februari 2026
-Qiqi 🐢🐳
.jpg)
Komentar
Posting Komentar