MELAMPAUI STANDAR HARAPAN



Dear, Ashim!

Ada masa ketika aku percaya bahwa yang sempurna hanya tinggal dalam gagasan. Jauh dan tak tersentuh, seperti langit yang bisa dipandang tapi tak bisa digenggam. Plato pernah berkata bahwa dunia ini hanyalah bayangan dari yang ideal. Aku mengangguk setuju dalam diam. Kupikir, barangkali memang begitu, yang indah hanya utuh dalam konsep, sementara yang nyata selalu membawa kurangnya sendiri.

Namun, saat aku bertemu kamu. Seketika, dunia indrawi ini tidak lagi terasa sekadar pantulan yang redup. Dalam dirimu, aku melihat sesuatu yang tak hanya masuk akal, tetapi juga menggema. Bukan kesempurnaan yang steril tanpa cela, melainkan ketepatan. Ketepatan cara berpikir, ketenangan dalam bersikap, kedalaman dalam memaknai hal-hal kecil. Kamu tidak terlihat seperti ilusi yang dipaksakan menjadi nyata. Kamu terasa, kamu nyata. Aku mulai berpikir bahwa konsep dunia ide Plato dapat terbantahkan saat aku melihat dirimu. Seolah kamu tercipta dengan takaran yang matang.

Aku pernah mempertanyakan diriku sendiri. Aku punya standar yang tinggi. Bukan karena aku ingin yang mustahil, tapi karena aku tahu seperti apa kualitas jiwa yang ingin kutemani dalam perjalanan panjang hidup ini. Namun hubungan terakhirku membuatku goyah. Aku bertanya, apakah standarku terlalu tinggi? Apakah aku seharusnya menurunkannya agar lebih mudah bertemu dengan seseorang. Aku hampir melakukannya.

Hingga kamu hadir, dan dari segala peristiwa yang telah kita lalui, kamu melampaui batas yang bahkan sempat ingin kuturunkan. Kamu tidak membuatku merasa berlebihan karena berharap banyak. Kamu justru membuktikan bahwa harapan yang dijaga dengan sabar tidak pernah sia-sia. Bahwa standar bukan tembok untuk menyombongkan diri, melainkan kompas agar kita tidak tersesat.

Denganmu, aku tidak merasa harus mengecilkan diriku agar diterima. Aku tidak merasa perlu meredam pikiranku agar tidak terlihat “si paling.” Justru aku merasa ditumbuhkan, ditantang menjadi versi yang lebih matang, lebih jernih, lebih hidup.

Plato menyatakan bahwa dunia ini hanya bayangan. Aku membantahnya, bayangan ini terlalu indah ketika aku bisa berjalan di dalamnya bersamamu.

Di antara semua kemungkinan yang bisa terjadi dalam hidupku, dipertemukan denganmu adalah salah satu yang paling kusyukuri. Selain karena kamu melampaui standarku, kamu juga mengembalikan keyakinanku bahwa yang tepat itu nyata dan hadir saat ini bersamaku.

Dan kini aku tidak lagi ingin menurunkan apa pun. Karena kamu membuktikan, yang kutunggu memang ada.

Jakarta-Sharjah, 22 Februari 2026

-Qiqi 🐢🐳

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE WEIGHT OF BEING

ALL ABOUT KKN : Problematika dan Tantangan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi Mahasiswa

BOLEHKAH AKU MENJADI BINTANG BARUMU?