REFLEKSI SATU BULAN: KEMBALINYA DIRIKU YANG HILANG
Dear, Ashim!
Tak terasa, sudah sebulan sejak semesta memperkenalkanku padamu dengan cara yang sederhana, namun pelan-pelan mengubah banyak hal dalam diriku. Dalam waktu yang tidak terlalu panjang itu, aku menemukan begitu banyak sisi darimu. Seperti membuka lembaran buku yang tidak pernah membosankan untuk dibaca. Setiap percakapan menghadirkan wawasan baru, setiap diskusi melahirkan sudut pandang yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Aku menyukai caramu berbagi ilmu, caramu menerima insight tanpa merasa paling benar, caramu berpikir dengan tenang namun dalam.
Ada sesuatu yang sulit dijelaskan setiap kali aku berinteraksi denganmu. Bukan sekadar bahagia, lebih dari itu. Aku merasa teduh, nyaman. Seolah beban berat dalam benakku yang selama ini kusimpan sendiri, mendadak kehilangan daya cengkeramnya. Cara kamu mendengarkan, cara kamu hadir tanpa menghakimi, cara kamu mencoba mengambil peran saat aku sedang gundah, semuanya terasa tulus dan tidak dibuat-buat. Dan aku menyukainya, bukan hanya karena ia manis, tetapi karena ia nyata.
Satu bulan ini juga mengajarkanku melihatmu lebih jauh dari sekadar sosok yang cerdas. Aku bangga pada caramu berusaha menyenangkan hati keluargamu, orang tuamu, adik dan kakakmu, keponakanmu, dan orang-orang dekat di sekitarmu. Ada kesungguhan dalam caramu menjaga mereka. Ada kepedulian yang tidak berisik, tetapi konsisten. Itu membuatku memahami bahwa kedewasaan bukan tentang kata-kata besar, melainkan tentang tanggung jawab yang dijalani setiap hari.
Aku juga mengagumi caramu menata masa depan. Aku tahu itu tidak mudah bagimu. Ada tekanan, ada lelah, ada ragu yang mungkin sesekali datang. Namun kamu menghadapinya dengan kesungguhan yang jarang kutemui. Kamu tidak lari. Kamu bertahan. Dan dalam proses itu, tanpa kamu sadari, kamu menjadi inspirasi bagiku.
Ashim, aku pernah terpuruk. 1-2 tahun terakhir dalam hidupku yang terasa seperti ruang kosong, seperti berjalan tanpa arah, seperti kehilangan sebagian dari diriku sendiri. Namun setelah mengenalmu, perlahan aku menemukan kembali serpihan yang hilang itu. Seolah sebagian dari diriku yang redup menemukan pantulannya dalam caramu berpikir, caramu berjuang, caramu memaknai hidup. Dan tanpa terasa, jalanku yang dulu kabur kini mulai terlihat lebih jelas.
Terima kasih. Kehadiranmu bukan hanya menyenangkan, tetapi menguatkan. Bukan hanya mengisi hari, tetapi mengarahkan langkah. Terima kasih telah melibatkanku dalam proses perjuangan panjangmu yang melelahkan itu. Aku merasa terhormat bisa menjadi bagian kecil dari perjalananmu.
Semoga refleksi satu bulan ini bukan sekadar kenangan manis, tetapi awal dari pertumbuhan yang lebih dewasa. Semoga kita sama-sama terus meningkatkan kualitas diri, sama-sama menata masa depan dengan lebih terarah, dan saling mengingatkan ketika salah satu dari kita mulai goyah.
Jika kelak kita melihat kembali hari-hari awal ini, aku ingin kita tersenyum dan berkata, "di sinilah semuanya mulai tumbuh. Pelan, tulus, dan penuh makna".
Dengan rasa yang semakin dalam dan penuh syukur.
Jakarta-Dubai, 12 Februari 2026
-Qiqi 🐢🐳

Komentar
Posting Komentar