ROMANSA YANG DISANDARKAN PADA LANGIT



Dear, Ashim!

Hari pertama Ramadhan selalu seperti permulaan sebuah perjalanan batin. Hening, tapi juga bergema. Dalam perenungan Al-Ghazali, manusia bukan sekadar jasad yang bergerak, melainkan ruh yang sedang mencari asalnya. Puasa menurutnya adalah jalan untuk menundukkan nafsu agar hati kembali jernih, seperti cermin yang lama tertutup debu. Di awal Ramadhan ini, aku merasakan sesuatu yang berbeda, keheningan yang tidak kosong, tetapi terisi oleh kesadaran, dan namamu yang bergetar pelan di relung batinku.

Dalam Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menjelaskan bahwa hakikat puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi menahan hati dari keterikatan yang berlebihan pada dunia. Lapar adalah pintu, tapi yang hendak dibuka adalah kesadaran. Ketika tubuh melemah, anehnya hatiku seperti diberi kesempatan untuk berbicara. Dan di sela lapar itu, aku menyadari bahwa ketenangan hari ini bukan hanya sekadar karena ibadah yang lebih khusyuk, melainkan karena ada kamu yang membuatku ingin menjadi lebih baik. Bukan karena tuntutan, tapi karena cinta yang perlahan menuntun.

Al-Ghazali juga membagi puasa dalam tiga tingkatan. Puasa orang awam yang menahan diri dari makan dan minum, puasa orang khusus yang menjaga pancaindra dari dosa, dan puasa orang paling khusus yang menjaga hati agar tidak berpaling dari Allah. Aku belum sampai pada derajat tertinggi itu. Namun hari ini aku mengerti satu hal. Kehadiranmu membuat hatiku lebih lembut, lebih sabar, lebih ingin mendekat kepada Allah. Ini bukanlah gangguan spiritual, melainkan bagian dari jalan itu sendiri. Cinta yang benar, kata para sufi, tidak menutup mata hati, namun membersihkannya. 

Di hari pertama ini, aku merasakan bahwa romansa bukan sekadar rindu atau kata-kata manis. Romansa adalah perasaan yang membuat ibadah terasa lebih bermakna. Ketika aku berdoa, ada namamu yang ikut kusebut setelah nama Allah, Rasulullah Saw, dan orang tuaku. sebagai amanah yang ingin kujaga dengan cara yang suci. Dalam perspektif Al-Ghazali, cinta manusia adalah bayangan dari cinta Ilahi. Bayangan itu bisa menyesatkan jika berlebihan, tapi bisa menyelamatkan jika diarahkan. Izinkan aku mencintaimu dengan cara yang menenangkan agar terhindar dari kelalaian.

Hari pertama Ramadhan ini terasa seperti latihan membersihkan hati. Aku tersadar bahwa ketenangan bukan berarti tanpa rasa. Namun ia hadir ketika rasa itu tertata. Ada damai yang lahir dari kesadaran bahwa kita sama-sama sedang belajar menjadi lebih baik. Jika puasa adalah proses mengurangi yang berlebihan, maka cinta hari ini terasa seperti sesuatu yang tidak perlu dikurangi, hanya perlu disucikan.

Dan di antara langit senja yang memerah menjelang Maghrib, aku memahami satu hal. Hati yang bersih akan menemukan cahaya. Hari ini, cahaya itu hadir dalam bentuk ketenangan yang lembut dan sedikit romansa yang membuat perjalanan ruhani ini terasa hangat. 🌙

Jakarta-Dubai, 18 Februari 2026

-Qiqi 🐢🐳

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE WEIGHT OF BEING

ALL ABOUT KKN : Problematika dan Tantangan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi Mahasiswa

BOLEHKAH AKU MENJADI BINTANG BARUMU?