RUMAHKU
Dear, Ashim!
Selamat siang! Rekahan surya mewarnai hari dunia, seperti caramu mendengarkan aku yang tidak tergesa, tidak memaksa, kamu hadir dengan cahaya yang cukup untuk membuat segala gelap menjadi berwarna. Aku selalu tenang setiap kali namamu yang tak pernah bosan kusebut dalam doa. Rasa bahwa aku tidak sendirian di dunia yang sering terasa luas dan melelahkan ini.
Terima kasih telah mendengarkanku dengan sangat bijaksana. Kamu seperti laut yang menerima setiap sungai tanpa bertanya dari mana ia datang. Kamu membuka ruang untukku menumpahkan resah, tawa, ragu, bahkan diam yang sulit kujelaskan. Dan setiap selesai bercerita padamu, hatiku terasa lebih ringan. Seolah kamu menyerap sebagian bebanku dan mengubahnya menjadi ketenangan.
Kamu adalah rumah untukku pulang. Rumah yang tak hanya sekedar terlihat oleh mata, melainkan yang terasa oleh jiwa. Denganmu, aku tidak perlu menjadi siapapun selain diriku sendiri. Tidak perlu kuat setiap waktu. Tidak perlu sempurna untuk diterima. Aku hanya perlu datang dan kehadiranmu cukup membuatku merasa aman.
Karena kamu sekarang adalah rumahku, aku ingin melibatkanmu dalam setiap langkah yang kupilih. Aku ingin pertimbanganmu menjadi bagian dari arah yang kutuju. Sejujurnya, sebagai wanita yang juga kehilangan arah, aku tak mampu berjalan sendiri. Sejak ada kamu, arahku terasa lebih terang dan langkah terasa lebih yakin. Bersamamu, banyak pilihan tidak lagi sekadar keputusan, melainkan perjalanan yang akan kita pahami bersama. Kita pikirkan dengan tenang, kita timhang dengan hati, dan kita jalani dengan keyakinan yang lebih dalam.
Jakarta-Dubai, 20 Februari 2026
-Qiqi 🐢🐳

Komentar
Posting Komentar