UNTUKMU YANG SELALU INGIN LEBIH
Dear, Ashim!
Hari ini aku melihat wajahmu yang begitu lelah. Mata yang sendu itu seperti menyimpan sisa-sisa malam yang kurang tidur, bibirmu yang mengering seolah lupa bahwa tubuh juga butuh jeda. Wajahmu pucat, dan entah mengapa hatiku ikut meredup melihatnya. Ada dorongan sederhana dalam diriku, ingin berada di sampingmu. Menyuguhkan seteguk teh hangat, membiarkan uapnya menyentuh wajahmu yang penat, dan perlahan mengurai lelah yang kamu simpan rapi.
Ingin kuusap kepalamu pelan, seperti angin sore yang tak banyak bicara namun menenangkan. Ingin menjadi tempatmu meletakkan beban, walau hanya sebentar. Karena aku tahu, setiap harimu tidak pernah benar-benar ringan.
Hari ini kamu menyelesaikan ujian AI and Entrepreneurship. Nilai 8 dari 10. Itu angka yang baik, lebih dari baik sebenarnya. Karena aku tahu semalam kamu belajar dengan keseriusan yang tidak setengah-setengah. Tapi, ambisimu yang menyala dan tekad yang tak mudah padam, nilai itu bagimu masih merasa belum cukup. Kamu ingin lebih. Kamu selalu ingin lebih. Dan di situlah aku melihat siapa dirimu sebenarnya. Kamu adalah orang yang tekun dan kompetitif, bahkan ke diri sendiri. Kamu memelihara mimpi dengan disiplin dan doa.
Namun yang lebih membuatku terdiam adalah setelah hari sepanjang itu, setelah energi terkuras oleh ujian dan pikiran, kamu masih meluangkan waktu untuk berbagi denganku. Kamu bercerita tentang sejarah, tentang pengetahuan dan keilmuan yang belum pernah aku pahami sebelumnya, tentang nilai-nilai yang tak lekang oleh zaman. Dengan suara yang mungkin sudah lelah, dengan tubuh yang mungkin ingin rebah, kamu tetap menjelaskan dengan sungguh. Seolah lelahmu tidak lebih penting daripada keinginanmu untuk membagi ilmu.
Dan belum selesai sampai di situ. Kamu masih berkumpul dengan teman-temanmu, berdiskusi tentang dunia perkuliahan di negeri orang, tentang problematika yang tak sederhana. Kamu tetap hadir. Tetap berpikir. Tetap peduli.
Ashim, kamu pandai sekali menyembunyikan lelahmu. Di hadapanku, di depan teman-temanmu, kamu memilih terlihat baik-baik saja. Seakan pundakmu diciptakan untuk kuat, seakan hatimu kebal terhadap penat. Tapi aku tahu, bahkan langit yang luas pun sesekali perlu hujan untuk menurunkan beratnya.
Kamu adalah salah satu orang paling tangguh yang pernah aku temui. Bukan karena kamu tidak pernah lelah, tapi karena kamu tetap berjalan meski lelah. Bukan karena kamu tak pernah ragu, tapi karena kamu memilih melangkah meski ragu itu ada.
Dan justru karena itu, aku khawatir.
Aku khawatir kamu terlalu keras pada dirimu sendiri. Aku khawatir kamu lupa bahwa tubuhmu punya batas, bahwa hatimu juga perlu dirawat. Aku ingin kamu tahu, tak apa jika sesekali kamu rapuh. Tak apa jika kamu ingin bersandar. Dunia tidak akan runtuh hanya karena kamu beristirahat sejenak.
Doaku sederhana, semoga kesehatan selalu memelukmu erat. Semoga keberkahan mengikuti setiap langkahmu. Semoga ilmu yang kamu kejar menjadi cahaya, bukan beban. Dan semoga Allah menjaga setiap detak jantungmu dengan kelembutan yang tak kasat mata.
Jika suatu hari lelahmu terasa terlalu berat, aku ingin menjadi tempatmu pulang. Meski hanya lewat kata, meski hanya lewat doa.
Karena bagiku, di balik ambisimu yang besar dan tekadmu yang menyala, kamu tetap manusia yang pantas dijaga.
Jakarta-Dubai, 11 Februari 2026
-Qiqi 🐢🐳

Komentar
Posting Komentar