RUNYAM
Dear my greatest man, Ashim! 🤍🕊️✨
Draft ini sudah mulai kutulis sejak 1 Ramadhan, atau 18 Februari 2026. Dan aku menyelesaikannya malam ini, 20 maret 2026 dengan berbagai pertimbangan dan telah melewati fase revisi belasan kali. Aku melakukan ini supaya kamu bisa melihat apa yang selama ini hanya kusimpan dalam diam.
Ada tiga hal yang selalu berulang di setiap tahun ku, dan semuanya bermuara pada satu hari yang sama, Ramadhan. Tiga tahun terakhir, Ramadhan selalu hadir bersamaan dengan tanggal kelahiranku. Lebih istimewa lagi, tahun ini juga, di tanggal 21 Maret 2026 sekaligus bertepatan dengan hari raya Idul Fitri ✨
Pertama, tentang hari raya itu sendiri. Bagi banyak orang, Idul Fitri adalah rumah yang penuh cahaya, orang-orang berdatangan untuk berjabat tangan, memeluk, dan saling memaafkan. Sayangnya, bagiku suasana itu justru terasa seperti ruang yang terlalu penuh hingga aku kehilangan tempat untuk berdiri. Keramaian ini tidak sepenuhnya terasa hangat, justru seperti gelombang yang membuat dadaku sesak. Karena itu, aku memilih mengurung diri, menyendiri dengan kegelapan, dan meratapi dengan air mata bergelinang. Aku tidak membenci mereka, aku hanya tidak tahu bagaimana caranya menjadi bagian dari mereka tanpa merasa hilang dan kesepian.
Kedua, tentang malam takbir. Saat gema takbir berkumandang, orang-orang biasanya larut dalam rasa haru yang indah. Tapi yang kurasakan berbeda. Setiap malam itu tiba, aku justru runtuh dalam diam. Aku menangis tanpa suara, seolah ada sesuatu dalam diriku yang ikut pecah bersama gema yang menggema di luar sana. Tubuhku terasa lemah, pikiranku kosong, dan aku hanya bisa bertahan dalam keheningan yang berat. Aku tidak sepenuhnya bisa menjelaskan kenapa dan apa yang aku rasakan, rasa itu selalu datang tanpa bisa kutolak.
Ketiga, tentang ulang tahunku sejak usia sembilan belas. Aku mulai merayakannya sendiri. Aku membeli kue kecil untukku sendiri, dan duduk sendirian di hadapan cermin. Tidak ada suara tepuk tangan, tidak ada ucapan. Di potongan pertama kue itu, aku selalu menangis. Bukan sedih, tapi seperti akumulasi dari semua hal yang tidak pernah sempat kuucapkan sepanjang tahun. Setiap tahun, hal itu selalu terulang. Dan setiap tahun, rasanya tetap sama, sepi.
Aku merasa terasing di tengah sesuatu yang seharusnya terasa dekat. Aku sering merasa seperti tidak sepenuhnya hidup di hidupku sendiri. Aku ada, tapi tidak sepenuhnya eksis di dalamnya. Aku melihat orang lain menjalani momentum itu dengan bahagia bersama keluarga, teman dekat, atau orang tercinta. Sementara aku harus berjuang hanya untuk bertahan melewati harinya sendirian dan kesepian.
Aku tidak menuliskan ini untuk meminta solusi atau membuatmu merasa harus memperbaiki sesuatu. Aku hanya ingin kamu tahu dengan jelas, tanpa bagian yang disembunyikan. Karena yang aku butuhkan bukanlah jawaban, melainkan seseorang yang paham bahwa aku juga sedang berusaha meski dari luar terlihat seperti biasa aja, santai, dan seolah semua baik-baik saja.
Suatu saat nanti jika kamu berada di dekatku dan hal ini terjadi, aku tidak berharap kamu mengubah suasana atau memaksaku menjadi berbeda. Aku hanya ingin kamu tetap berada di sampingku, genggam, usap kepala dan punggungku dengan lembut untuk memastikan bahwa aku tidak sendirian lagi. Hadirmu, tanpa banyak kata, mungkin adalah satu-satunya hal yang bisa membuat hari itu nanti terasa sedikit lebih ringan. Apakah itu berat untukmu? Aku tidak akan memaksa, jika kamu keberatan katakan saja dan dengan senang hati aku akan menerimanya.
Mengenai ulang tahunku, aku tidak berharap dirayakan. Tapi jika boleh jujur, ada satu doa dan harapan kecil yang selalu kulangitkan. Aku hanya tidak ingin sendirian, dan sejujurnya aku juga benci kesepian.
Sore tadi, kepalaku sangat runyam tanpa tahu aku sedang memikirkan apa. Aku tidak mampu menggerakkan tubuhku hingga kakiku basah terkena percikan hujan yang lebat dan suara petir yang menggelegar dan kilatan cahaya yang menusuk mata. Aku sengaja tidak menyalakan lampu dan membiarkan kamarku gelap gulita supaya tidak ada orang yang bisa melihat wajahku yang telah dipenuhi air mata.
Namun, saat kamu mulai mengirimku sepatah kata melalui pesan WhatsApp, semua berubah. Benang kusut di kepalaku seakan perlahan kembali lurus. Air mata mulai berhenti mengaliri wajahku. Dan saat aku mendengar suaramu, seketika emosiku kembali stabil, kepalaku tidak runyam lagi, dan aku kembali tersenyum bahkan tertawa seakan kesedihan yang baru saja mendatangiku seperti tidak pernah terjadi. Hatiku kembali tenang, dan aku menikmatinya. Itu sudah sangat cukup dan kuanggap sebagai kado ulang tahun yang indah tahun ini. Terima kasih banyak ya ✨
Minal aidin wal faizin sayang, maaf aku banyak sekali merepotkan dan berbagai kesalahan yang kulakukan secara sadar maupun tidak sadar 🙏
Aku tidak ingin ini hanya terjadi di tahun ini, aku ingin merasakan momen ini terus menerus di tahun berikutnya dan seterusnya. Bahkan di hari-hari selain hari ulang tahunku. Aku juga ingin menjadi sosok yang selalu hadir di setiap fase tertinggi hingga terendahmu. Sebagai bentuk rasa syukurku telah dihadirkan manusia indah dalam wujud kamu.
Jakarta - Sharjah, 21 Maret 2026
-Qiqi 🐢🐳

Komentar
Posting Komentar