MENJELANG AKHIR RAMADHAN 🌄
Dear my future imam, Ashim! 🤍🕊️✨
Malam Ramadhan kini berjalan pelan menuju perpisahannya, selayaknya musafir yang telah lama beristirahat lalu bersiap melanjutkan perjalanan. Dalam kesenyapan yang memeluk akhir bulan suci ini, aku menemukan diriku lebih sering berdiam di hadapan Allah, menimbang kembali isi hatiku yang paling dalam. Dan anehnya, di sela ucapan yang bergetar di bibir, namamu sering muncul seperti cahaya kecil yang ikut berpendar di antara doa yang kupanjatkan dengan penuh kerendahan.
Ramadhan selalu mengajarkan sesuatu yang lebih sunyi daripada sekadar menahan lapar. Ramadhan juga mengajarkan bagaimana hati dipoles perlahan hingga kembali bening. Al Ghazali pernah merenungi jiwa manusia yang diibaratkan seperti cermin yang hanya mampu menangkap cahaya kebenaran ketika dibersihkan dari debu dunia. Mungkin karena itulah bulan ini terasa begitu jernih. Segala perasaan tampak lebih mengalir dan terbuka dengan jujur, termasuk caraku memikirkanmu dengan ketenangan yang melandai.
Di ujung malam panjang yang dipenuhi ayat suci, aku sering merasa doa bukan lagi sekadar rangkaian kata. Doaku menjelma menjadi semacam keheningan yang berbicara tanpa suara. Ibn Sina juga pernah menyebut bahwa jiwa manusia memiliki kerinduan kodrati kepada kesempurnaan yang melampaui dirinya. Barangkali kerinduan itulah yang membuat hatiku perlahan mencari kehangatan ketika mengingatmu. Seolah ada arah tak kasatmata yang menuntun rasa ini untuk tetap bertahan dalam kelembutan.
My beloved Ashim, kehadiranmu dalam batinku selama Ramadhan ini seperti taman yang tumbuh di wilayah yang tak terduga. Kehadiranmu sangat menawan hingga ruang teduh di hatiku mengerti bahwa kehidupan selalu menyimpan kejutan yang penuh rahmat. Bahkan dalam kesederhanaan, ada perasaan damai yang muncul ketika memikirkan seseorang yang berjalan dengan ketulusan seperti dirimu.
Aku teringat pada gagasan Ibn Arabi yang mengatakan bahwa cinta adalah jalan paling halus yang Allah tunjukkan untuk memperlihatkan jejak keindahan Nya pada manusia. Ketika pertama kali membaca kalimat itu, kini aku memahami maknanya dengan cara yang lebih mendalam. Aku berusaha mencintaimu dengan tenang, juga bisa menjadi bentuk penghambaan yang lembut.
Ramadhan yang hampir berlalu ini membuatku ingin menyimpan beberapa hal untuk terus hidup setelahnya. Kejernihan niat, kesabaran yang tumbuh dari kesunyian sahur, dan kebiasaan menundukkan hati sebelum menilai dunia. Saat suatu hari kehidupan mempertemukan kita dalam perjalanan yang sama, aku berharap perasaan ini tetap bertahan dalam diri kita. Selayaknya warisan ruhani yang pernah dijaga oleh para cendekiawan di masa lampau.
Gagasan Al Farabi yang mengatakan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah kemewahan yang tampak, melainkan harmoni batin yang selaras dengan kebaikan tertinggi. Ketika aku memikirkanmu, bayangan tentang kebahagiaan itu muncul. Dua jiwa yang saling menjaga doa satu sama lain, bahkan ketika dipisahkan oleh jarak dan waktu.
Menjelang akhir Ramadhan ini aku tidak membawa permintaan yang berlebihan kepada Allah. Aku hanya menitipkan harapan semoga langkahmu senantiasa dipelihara dalam cahaya petunjuk, semoga hatimu dijaga dari kegelisahan yang tidak perlu, dan semoga kehidupan memperlakukanmu dengan kelembutan yang pantas kamu terima.
Saat Ramadhan meninggalkan kita seperti fajar yang perlahan menutup malam, aku berharap satu hal kecil tetap tinggal di antara langit dan bumi. Di antara ribuan doa yang melayang menuju Arasy, ada satu doa dariku yang menemukan alamatnya, mengalir kepadamu sebagai ketenangan, sebagai keberkahan, dan sebagai tanda bahwa hatiku pernah menyebut namamu dengan penuh khusyuk di bulan yang paling suci.
Jakarta - Sharjah, 10 Maret 2026
-Your future makmoom, Qiqi 🐢🐳✨

Komentar
Posting Komentar