TAKUT TAK PANTAS


Dear, Ashim!

Setelah sekian lama aku hidup menyendiri di tanah rantau, ditempa oleh sekumpulan pengalaman dan berbagai wajah manusia yang membentukku menjadi Qiqi yang kamu kenal di layar kecil ponselmu, aku pernah kehilangan diriku sendiri. Aku lupa bahwa aku pun seorang anak perempuan yang sejak kecil dicap manja oleh orang tuanya, dicap tak berguna oleh tetangga hanya karena ketika bertengkar dengan teman, yang bisa kulakukan hanyalah menangis. 

Sejak TK hingga bangku sekolah madrasah aliyah, rasa takut akan kesendirian adalah bayang-bayang yang selalu mengikutiku. Bertahun-tahun aku menjadi sasaran ejek dan bully karena air mata yang terlalu mudah jatuh. Aku memilih duduk sendiri di sudut kelas, hingga suatu hari perundungan itu tak lagi sekadar kata hingga meninggalkan jejak fisik yang abadi di pipi kananku.

Aku ditertawakan karena sensitif, dianggap berlebihan karena rapuh. Orang tuaku ingin aku tangguh, ingin aku mandiri, namun tak pernah mengajariku bagaimana caranya berdiri tanpa rasa takut. Saat teman-temanku merayakan akhir pekan bersama keluarga mereka, aku hanya bisa memandang dengan iri yang diam menyesakkan. Aku pernah merengek ingin diajak berlibur, dan yang kudapat justru amarah. Hingga hari ini, aku tak punya kenangan riuh tawa liburan keluarga untuk kusimpan, hehe.

Aku iri ketika teman-temanku makan di restoran bersama keluarganya, iri ketika mereka diberi hadiah atas peringkat yang mereka raih. Kamu tahu, aku pernah menjadi peringkat kedua dengan nilai tertinggi seangkatan. Namun bukan pelukan bangga yang kuterima, melainkan perbandingan. Seolah angka dua adalah kegagalan yang tak layak dirayakan. Sejak itu, aku tak pernah merasa cukup pintar. Apa pun yang kulakukan selalu terasa kurang di mata mereka.

Di madrasah aliyah, aku hampir tak naik kelas. Nilai akademikku runtuh, meski bahasa Inggris dan biologi masih setia menolongku. Menyadari rapuhnya prestasi dalam hal akademik, aku mengepakkan sayap di ranah non akademik. Aku menorehkan capaian di tingkat sekolah, kota, provinsi, bahkan internasional. Namun lagi dan lagi, kebanggaan tak pernah benar-benar singgah di rumahku. Yang mereka inginkan hanyalah peringkat pertama di kelas. Setiap pembagian rapor adalah ritual tangis yang berulang.

Ketika memasuki dunia kuliah, penolakan datang lebih dulu daripada doa restu. Bagiku, kuliah adalah jembatan. Sedangkan bagi orang tuaku, itu sekadar pemborosan untuk anak perempuan. Aku nekat melangkah dengan izin orang tua yang tak benar-benar izinkan. Malam pertama di tanah rantau, aku tidur di teras masjid karena semua kamar kos penuh. Uang yang kugenggam hanya lima ratus ribu rupiah. Aku menangis dalam sunyi, takut tak sanggup bertahan.

Ashim, semester pertamaku porak-poranda. Dunia perkuliahan terasa asing dan rumit. Cara bicaraku yang cepat dan keras seperti insan Tanjung Priok pada umumnya, dianggap kasar. Aku dicap tak beradab hanya karena tak memahami norma baru. Ketika dosen berbicara dalam bahasa daerah dan aku meminta penjelasan dalam bahasa Indonesia, aku justru dianggap tak menghargai budaya. Sejak saat itu, aku memilih diam dan tertinggal, daripada kembali disalahkan karena bertanya. Aku bekerja sambil kuliah, menahan lelah, menolak disebut manja, menolak menjadi cengeng.

Perlahan aku belajar mengelola organisasi, memikul tanggung jawab, dan meski banyak cacatnya, aku bertahan. Aku menemukan beberapa teman baik yang membantuku mengenal diriku kembali.

Lalu aku bertemu seseorang yang kukira rumah, namun ternyata hanya tempat singgah. Dua tahun lamanya aku menjadi dinding yang kokoh, atap yang teduh, pondasi yang tak runtuh. Dia menyukaiku dalam versi kuatku, dalam dominasi yang kupelajari dari luka. Namun ia lupa bahwa aku pun perempuan yang ingin dilindungi, ingin diapresiasi, ingin dimanja, ingin bersandar tanpa selalu menjadi sandaran. Aku memperbaiki retakan, menyiapkan perkakas, namun rumah itu menolak direnovasi. Pada akhirnya, akulah yang berubah menjadi rumah itu tanpa pernah benar-benar merasa memiliki rumah.

Dua tahun aku menjadi tempat pulang, namun tak pernah dipulangkan. Dan setiap malam, pertanyaan itu datang bersama air mata, ”apakah aku memang ditakdirkan hanya untuk menjadi kuat tanpa pernah dipeluk?” “Apakah aku tak layak dimanja, dibimbing, divalidasi, diberi hadiah kecil, diapresiasi, dipeluk batinnya?“

Semua itu telah berlalu. Aku meninggalkan rumah singgah itu dan menyelesaikan studiku sebagai sarjana pertama di keluargaku. Tak ada ucapan selamat, tak ada pelukan bangga. Ekspektasi mereka selalu lebih tinggi dari yang mampu kupikul sendirian.

Lalu aku bertemu denganmu. Cepat dan sederhana, lewat dunia maya. Percakapan kecil berubah menjadi ruang yang hangat dan nyaman. Bersamamu, aku melihat kemungkinan untuk menjadi perempuan yang tak perlu selalu dominan agar dicintai. Namun di sela syukurku, muncul lagi tanya yang sama, dari segala perhatian dan usahamu, ”pantaskah aku menerimanya?”

Aku bukan anak dari keluarga berada. Tempat tinggalku jauh dari kata layak. Aku takut kamu tak sanggup menerima celah dalam hidupku. Melihat duniamu yang penuh fasilitas, keluargamu yang berpendidikan, latar belakang lingkunganmu yang luar biasa, aku takut menjadi kontras yang memalukan. Aku takut setiap pemberianmu disalahartikan. Takut dicap matre, takut dicap boros, takut dianggap memanfaatkan.

Keluargamu menempuh pendidikan tinggi, sebagian hingga ke luar negeri. Sementara di keluargaku, ibuku tidak lulus SMP, kakakku tidak menyelesaikan masa SMKnya, bahkan lulus sekolah menengah pun menjadi kemewahan. Aku menanggung beban membantu pendidikan adikku dengan tenaga dan pikiran yang sering kali hampir habis. Aku merasa lelah, dan aku takut kamu tak tahan dengan realitasku.

Maka, ”pantaskah aku menerima usahamu?” ”Siapkah kamu menerima segala kekuranganku, karakter keluargaku, lingkunganku, kondisiku?” ”Bisakah aku berdiri sejajar denganmu?”

Aku juga melihat masa lalumu. Dia lebih dulu memenangkan hatimu. Dia sangat cantik, pintar, berasal dari keluarga yang cemara. Bisakah aku mengimbangi kenangan itu? Ataukah suatu hari aku pun akan tereliminasi, seperti yang lain?

Apakah aku pantas?

Ashim, aku minta maaf karena menulis sepanjang ini. Setiap kalimat lahir dari malam yang penuh tanya. Aku menuliskannya perlahan, dengan sangat hati-hati, berusaha meyakinkan diriku sendiri. Ajari aku bagaimana menjadi pantas. Ajari aku bagaimana membahagiakanmu. Katakan apa yang harus kulakukan agar aku tak kehilanganmu.

Kehadiranmu membuat hidupku lebih tenang. Aku ingin membalas kebaikanmu. Aku ingin menjadi alasan bahagiamu, bukan bayangan pahit masa lalumu. Aku ingin menjadi rumah terakhirmu, tempat kamu menetap tanpa ragu.

Maaf jika tulisan ini terasa membebani. Fokuslah pada studi, karier, dan keluargamu. Aku hanya ingin jujur tentang isi kepalaku yang selalu kumanipulasi dengan jokes bapack bapack dan meme kucing akmal untuk menutupinya.

Tulisan ini kumulai sejak awal Februari dan kuselesaikan di awal Maret, dengan kesadaran penuh pada setiap kata.

Terima kasih telah menjadi manusia yang tulus dan baik. Namamu selalu kusebut dalam lima waktuku.

Jakarta - Sharjah, 2 Maret 2026

-Qiqi 🐢🐳

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE WEIGHT OF BEING

ALL ABOUT KKN : Problematika dan Tantangan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi Mahasiswa

BOLEHKAH AKU MENJADI BINTANG BARUMU?